sewa ambulance

Latest News

Bagaimana tepatnya prosedur otopsi dilakukan?

Apa yang terlintas dalam pikiran Geng Sehat ketika mendengar kata otopsi? Belum lama ini, dunia hiburan Indonesia dimeriahkan dengan berita tentang kematian mantan istrinya dari komedian terkenal Sule, Lina.

Berita sedih itu ternyata berbuntut panjang karena salah satu putra almarhum Sule menemukan ketidakberesan dalam kematian ibunya. Dia kemudian melaporkan masalah tersebut ke pihak berwenang. Laporan itu ditindaklanjuti dengan prosedur otopsi pada tubuh almarhum Lina.

Informasi tentang perkembangan proses otopsi kemudian bolak-balik di berbagai portal berita. Namun, sudahkah Geng Sehat memahami apa yang sebenarnya dilakukan dalam prosedur otopsi? Jika tidak, lihat sisa artikel ini!

Apa itu Otopsi?

Otopsi, juga dikenal sebagai pembedahan mayat atau pemeriksaan postmortem, adalah prosedur pemeriksaan yang dilakukan pada tubuh (tubuh orang yang sudah meninggal). Umumnya, ini bertujuan untuk menyelidiki penyebab kematian dari tubuh.

Geng Sehat yang suka menonton film seri bertema kejahatan harus terbiasa dengan deskripsi prosedur ini. Biasanya, tubuh para tersangka korban kejahatan diperiksa secara menyeluruh untuk memandu tim investigasi kepada para pelaku kejahatan.

Bahkan, prosedur otopsi tidak sesederhana dan secepat yang digambarkan dalam film, Gengs! Dibutuhkan tim ahli yang bekerja sangat hati-hati untuk memeriksa setiap detail pada tubuh. Terutama jika tubuh sudah dalam kondisi buruk, seperti korban mutilasi, mayat, hangus, tenggelam, Dan seterusnya.

Baca juga: Ria Irawan Meninggal, Mengapa Kanker Sulit Sembuh?

Kapan prosedur otopsi dilakukan?

Otopsi bukan prosedur rutin yang dilakukan pada semua tubuh. Ada beberapa kondisi umum, sehingga prosedur otopsi diperlukan. Misalnya, dugaan kematian tidak wajar karena kejahatan atau bunuh diri, penyakit menulardan kesalahan dalam prosedur medis atau pemberian terapi tertentu, untuk tujuan penelitian dan pendidikan, serta beberapa kondisi lainnya.

Untuk dapat melakukan prosedur otopsi, Anda tidak boleh ceroboh, Jeng! Sebagian besar tindakan otopsi membutuhkan persetujuan dari keluarga atau pihak yang dianggap sah sehingga otopsi dapat dilakukan.

Dalam beberapa kasus, prosedur otopsi tidak dapat dilakukan karena keluarga tidak memberikan persetujuan. Kurangnya pemahaman tentang prosedur otopsi adalah salah satu penyebabnya.

Banyak kesalahpahaman seputar otopsi, seperti organ yang akan diambil, tindakan otopsi yang dianggap "memperlakukan tubuh secara tidak layak", dan berbagai mitos lain yang sebenarnya kurang tepat.

Bahkan, seringkali autopsi adalah satu-satunya cara untuk menentukan penyebab kematian. Dalam ruang lingkup hukum, otopsi dapat dikatakan sebagai cara untuk membantu menegakkan keadilan bagi korban kejahatan yang telah meninggal dan tidak mampu membela diri.

Misalnya, tidak jarang kasus-kasus yang tampaknya merupakan kematian karena bunuh diri atau kecelakaan adalah pembunuhan. Selain analisis bukti dan pernyataan saksi, ini juga dapat dibuktikan dengan otopsi.

Baca juga: Cecep Reza Meninggal Serangan Jantung, Ketahui Prosedur untuk Memasang Cincin!

Siapa yang Dapat Melakukan Otopsi?

Pada prinsipnya, prosedur otopsi dilakukan oleh ahli patologi, seorang dokter yang berspesialisasi dalam menafsirkan dan mendiagnosis gangguan yang disebabkan oleh penyakit atau faktor-faktor penyebab tertentu dalam sel dan jaringan tubuh manusia.

Jika prosedur otopsi yang dilakukan berkaitan dengan upaya penegakan hukum, maka dokter yang melakukan prosedur otopsi harus memiliki spesialisasi di bidang forensik. Istilah forensik berarti penerapan berbagai metode ilmiah yang berkaitan dengan penegakan hukum atau investigasi tindak pidana.

Baca juga: Sulli Ex f (x) Bunuh Diri, Ketahui Penyebab Bunuh Diri di Usia Muda!

Apa yang Dilakukan Prosedur Otopsi?

Secara umum, prosedur otopsi melibatkan analisis eksternal (internal) dan internal (internal) tubuh orang yang meninggal. Prosedur otopsi dapat dibatasi pada bagian atau organ tubuh tertentu, tetapi juga dapat dilakukan secara luas pada semua bagian tubuh sesuai dengan tujuan prosedur.

Pemeriksaan eksternal dilakukan dengan memeriksa dan mendokumentasikan semua temuan pada bagian luar fisik tubuh, seperti ukuran dan karakteristik tubuh lainnya, keberadaan mereka. sebuah luka atau tanda khas yang dapat mengidentifikasi atau mengarahkan dokter ke penyebab kematian.

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan internal, yang umumnya melibatkan prosedur bedah melalui sayatan berbentuk Y di dada untuk dapat mengakses organ-organ di rongga dada, rongga perut, dan rongga panggul.

Organ yang diperiksa akan ditimbang dan diamati secara detail. Jika perlu, beberapa sampel jaringan akan diambil untuk analisis lebih lanjut. Kandungan saluran pencernaan juga termasuk salah satu benda yang diperiksa karena bisa jadi penyebab kematian berasal dari sesuatu yang dikonsumsi oleh almarhum.

Jangan bayangkan prosedur ini akan berlumuran darah ya, Geng! Karena pada orang yang telah meninggal, jantung yang tidak lagi berdetak akan membuat darah menetes ketika tubuh diiris menjadi sangat sedikit.

Karena banyaknya bagian yang perlu diperiksa, tidak heran prosedur otopsi akan memakan waktu yang relatif lama, yaitu sekitar 2-3 jam. Durasi ini juga mencakup prosedur mengembalikan semua organ pada tempatnya dan menjahit dengan rapi sayatan sehingga tubuh kembali ke kondisi semula.

Setelah semua pemeriksaan telah selesai dan didokumentasikan dengan baik, dokter yang melakukan otopsi akan melaporkan semua temuannya, yang dapat digunakan sebagai dasar untuk upaya penegakan hukum dan tujuan lain di masa depan.

Semoga sekilas informasi tentang prosedur otopsi bermanfaat untuk menambah wawasan dan meluruskan mitos yang tidak benar tentang otopsi, Gengs! Siapa tahu dengan pemahaman otopsi yang tepat, banyak orang kemudian tertarik mengejar pendidikan sebagai spesialis forensik.

Karena berdasarkan informasi dari Asosiasi Dokter Forensik Indonesia (PDFI), saat ini jumlah spesialis forensik di Indonesia dapat dikatakan masih sangat terbatas dan jauh dari ideal. Jumlah ideal dokter forensik tentu dapat memberikan kontribusi positif bagi upaya penegakan hukum di negara kita. (KAMI)

Baca juga: Mirror Syndrome, Penyebab Kematian dari Saudara Kembar Bella Bella-Ammar Zoni

Referensi:

MedicineNet: Otopsi (Pemeriksaan Post Mortem, Necropsy)

Jelajahi Forensik: Melakukan Otopsi

RSCM: Departemen Forensik dan Medicolegal

Sains Langsung: Apa Yang Tepat Mereka Lakukan Selama Otopsi?

Tirto.id: Krisis Dokter Forensik Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top