sewa ambulance

Uncategorized

Bisakah Memakai Kacamata Mencegah Penularan Covid-19?

Jika ada cara efektif untuk melindungi keluarga kita dari penularan Covid-19, maka menjaga jarak dan menggunakan masker saat keluar rumah menjadi hal yang utama. Cara lainnya, sering-seringlah mencuci tangan. Namun, para ilmuwan baru-baru ini menemukan satu cara lagi yang dianggap efektif menangkal virus yang sangat menakutkan ini: menggunakan kacamata dapat mencegah penularan Covid-19. Bagaimana tingkat proteksinya?

Pernyataan bahwa memakai kacamata dapat mencegah penularan Covid-19 berawal dari penelitian di China, tempat asal virus penyebab Covid-19. Para peneliti memperhatikan bahwa lebih sedikit pasien berkacamata (kebanyakan orang dengan rabun jauh) yang dirawat di bangsal rumah sakit di China, ketika wabah itu muncul awal tahun ini.

Dari pengamatan tersebut, mereka berspekulasi bahwa memakai kacamata dapat mencegah penularan Covid-19 atau menawarkan perlindungan maksimal selain masker.

Baca juga: Survei: 82% Tenaga Kesehatan Alami Kelelahan Saat Pandemi

Kacamata Bisa Mencegah Penularan Covid-19?

Siapa di antara Geng Sehat yang mengeluh tentang repotnya memakai kacamata dan masker? Ya memang, kacamata seringkali menjadi berembun karena kita memakai topeng. Sekarang kamu harus mikir lagi, geng, jika ingin melepas kacamata.

Para peneliti di China menganalisis data pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit dan menemukan tren aneh: sangat sedikit pasien yang sakit memakai kacamata. Di salah satu rumah sakit di Suizhou, China, 276 pasien dirawat selama 47 hari, tetapi hanya 16 pasien (kurang dari 6 persen) yang mengalami miopia atau rabun jauh yang mengharuskan mereka untuk memakai kacamata.

Padahal di kawasan itu, lebih dari 30 persen penduduk pada usia yang sama memakai kacamata untuk rabun jauh. Peneliti ini menduga, mungkinkah kacamata bisa melindungi seseorang dari terjangkit virus corona?

Meski begitu, para ahli mengatakan masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan. Mereka juga tidak menganjurkan agar orang mulai memakai pelindung mata selain masker dengan harapan dapat menurunkan risiko infeksi.

Baca juga: Mata Sering Gatal, Hati-Hati Jangan Menggaruk!

Penjelasan paling masuk akal mengapa kacamata dapat mencegah penularan Covid-19 adalah, sebagai penghalang parsial. Kacamata melindungi mata dari percikan batuk atau bersin orang yang terinfeksi. Penjelasan lain untuk temuan ini adalah bahwa orang yang memakai kacamata cenderung tidak menggosok mata mereka dengan tangan yang terkontaminasi.

“Secara teori, virus ini ditularkan dari droplet, kemudian paparan droplet masuk ke jaringan mukosa,” jelas dr Setiyo Budi Riyanto, SpM (K), Head of Refractive Surgery dan Managing Director Jakarta Eye Center (JEC), beberapa waktu lalu di Jakarta.

Virus masuk ke jaringan mukosa setelah orang yang terpajan menyentuh mata, jadi kita disarankan untuk tidak terlalu sering menyentuh mata. Virus juga ditularkan melalui air mata. Berdasarkan American Academy of OphthamologySeseorang yang terinfeksi Covid-19 dapat menularkan virus ketika orang lain menyentuh medium yang terkena air mata.

Sebuah penelitian di China yang mempelajari efek kacamata pada infeksi virus korona telah dipublikasikan di JAMA Ophthalmology. Beberapa ahli memberikan tanggapannya. Dr. Lisa Maragakis, seorang spesialis penyakit menular dan profesor kedokteran di Johns Hopkins Medical School, menjelaskan bahwa sampel dalam penelitian ini masih sangat sedikit, yaitu kurang dari 300 kasus Covid-19. Padahal lebih dari 30 juta kasus infeksi virus corona telah dilaporkan di seluruh dunia.

Lantas, apakah Anda yakin kacamata dapat mencegah penularan Covid-19? Sampai lebih banyak bukti ditemukan, Anda masih harus mengikuti protokol pencegahan yang ketat, bukan?

Baca juga: Mencegah Penularan Virus Corona dengan Alat Proteksi Lainnya

Referensi:

Nytimes.com. Apakah memakai kacamata melindungi Anda dari virus corona?

Livescience.com. Pelindung kacamata Covid-19.

Bunda, Waspada Malnutrisi Saat Hamil!

Sebagai ibu hamil, sangatlah penting bagi Bunda untuk selalu memenuhi kebutuhan nutrisi yang optimal selama masa kehamilan. Nutrisi yang optimal tidak hanya dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tubuh Anda, tetapi juga untuk menunjang tumbuh kembang janin.

Kekurangan gizi selama kehamilan dapat menyebabkan komplikasi kesehatan yang serius bagi ibu dan janin. Oleh karena itu, pola makan yang seimbang menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan tubuh Bunda sekaligus mendukung tumbuh kembang bayi.

Apa Penyebab Malnutrisi Selama Kehamilan?

Gizi buruk merupakan kondisi serius yang terjadi ketika pola makan seseorang tidak memenuhi kebutuhan nutrisi tubuhnya. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan pada organ vital dan berdampak buruk pada fungsi tubuhnya.

Dalam kehamilan, ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan ibu hamil mengalami gizi buruk, di antaranya:

– Kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan ibu hamil mendapatkan pola makan yang bergizi seimbang.

– Sakit gigi atau kondisi mulut tertentu, yang mempengaruhi kemampuan makan.

– Menerapkan pola makan yang tidak sehat karena kurangnya pendidikan.

– Kehilangan nafsu makan karena kondisi kesehatan lain, seperti infeksi kronis, depresi, dll.

– Penggunaan obat-obatan tertentu yang dapat mengganggu penyerapan zat gizi.

– Diare, mual dan muntah.

– Asupan nutrisi dan kalori yang tidak mencukupi kebutuhan yang meningkat selama kehamilan.

Baca juga: 5 Nutrisi Penting untuk Ibu Hamil di Trimester Pertama

Resiko Kesehatan Wanita Hamil yang Kurang Gizi

Wanita yang kekurangan gizi saat konsepsi cenderung gagal memenuhi kebutuhan nutrisinya selama kehamilan. Kondisi ini dapat menyebabkan penambahan berat badan menjadi tidak ideal dan meningkatkan risiko kematian.

Kekurangan mikronutrien selama kehamilan dapat menyebabkan hal berikut:

– Kekurangan zinc dan magnesium dapat menyebabkan preeklamsia dan kelahiran prematur.

– Asupan vitamin B12 yang tidak memadai dapat menyebabkan masalah neurologis.

– Kekurangan vitamin K dapat menyebabkan perdarahan yang berlebihan saat melahirkan.

– Asupan yodium yang tidak memadai selama kehamilan dapat menyebabkan keguguran dan lahir mati.

Gizi buruk selama kehamilan juga dapat merugikan Bunda, misalnya:

– Dapat menurunkan kekebalan dan menyebabkan infeksi.

– Menyebabkan anemia dan kelemahan.

– Produktivitas lebih rendah.

Baca juga: Nutrisi dan Multivitamin yang Dibutuhkan Ibu Hamil: Pentingnya Mikronutrien

Risiko Kesehatan untuk Bayi

Menurut sebuah penelitian, kekurangan gizi selama kehamilan dapat berdampak buruk pada pertumbuhan bayi di awal kehidupan. Hal ini dapat meningkatkan risiko terjadinya obesitas, diabetes, dan komplikasi metabolik seperti penyakit hati, dll.

Kekurangan mikronutrien selama kehamilan dapat berdampak buruk pada bayi, yaitu:

– Kekurangan yodium dapat menyebabkan kelainan kongenital, kretinisme neurologis, defisiensi mental, diplegia spastik, kretinisme miksedematosa, dan lain-lain. Ini juga dapat meningkatkan risiko kematian bayi.

– Kadar zinc yang rendah dapat menyebabkan keterlambatan pertumbuhan janin dan kelainan bawaan.

– Kekurangan vitamin D bisa menyebabkan rakhitis pada janin.

– Kekurangan folat dapat menyebabkan cacat tabung saraf pada bayi.

– Kekurangan kalsium dapat menyebabkan perkembangan tulang janin yang buruk.

– Kadar zat besi yang rendah dalam tubuh ibu bisa menyebabkan janin terhambat pertumbuhannya.

Pola makan yang tidak seimbang selama kehamilan juga dapat berdampak negatif bagi kesehatan bayi baru lahir, antara lain:

– Meningkatkan risiko lahir mati.

– Menyebabkan kelahiran prematur.

– Meningkatkan risiko kematian perinatal.

– Menyebabkan komplikasi neurologis, pernapasan, usus, dan peredaran darah pada bayi.

– Menyebabkan cacat lahir dan kerusakan otak.

Dalam jangka panjang, ibu yang kurang gizi juga dapat membuat anaknya rentan terhadap komplikasi kesehatan berikut:

– Disfungsi ginjal.

– Masalah kardiovaskular, seperti hipertensi, aterosklerosis, stroke, dan penyakit jantung koroner.

– Osteoporosis.

– Kanker payudara.

– Disfungsi testis, ovarium, otak, jantung, hati, usus halus, dan lain-lain.

– Dapat berdampak negatif pada perkembangan mental dan kinerja sekolah anak.

Saat hamil, Bunda tidak hanya membutuhkan asupan nutrisi untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, tetapi juga memenuhi kebutuhan nutrisi bayi yang sedang berkembang di dalam kandungan. Karena itu, pastikan untuk menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang.

Makan lebih banyak buah dan sayur untuk mendapatkan vitamin, mineral dan serat. Sertakan berbagai sumber protein, seperti ikan, telur, kacang-kacangan, biji-bijian, dan unggas. Tambahkan juga sumber karbohidrat, seperti pasta, roti, atau kentang, untuk memenuhi peningkatan kebutuhan karbohidrat selama kehamilan. (KAMI)

Baca juga: Nutrisi Apa yang Dibutuhkan untuk Mempersiapkan Kehamilan dan Melahirkan?

Referensi

Mom Junction. "7 Penyebab Serius Malnutrisi Selama Kehamilan"

Sembelit Ibu Balita? Jangan khawatir, berikut cara memperbaikinya!

Balita pada dasarnya adalah anak-anak di bawah usia lima tahun yang rewel. Suasana hati dan keinginan mereka bisa berubah dengan cepat. Faktanya, sesuatu yang mendasar seperti buang air besar bisa menjadi rumit.

Beberapa balita buang air besar setiap hari. Tetapi bagaimana jika anak Ibu melakukannya setiap dua atau tiga hari? Tentu, Mums and Dads khawatir dan panik. Apalagi jika menyebabkan sembelit.

Meski bukan pertanda penyakit serius, sembelit membuat Bunda panik karena si kecil menangis setiap buang air besar. Ya, sembelit merupakan masalah umum pada balita. Kasus sembelit pada balita kebanyakan bersifat sementara. Biasanya, balita yang mengalami sembelit jarang buang air besar atau buang air besar yang keras dan kering.

Tak perlu khawatir, karena ada beberapa penyebab dan cara mengatasi sembelit pada balita.

Baca juga: Jenis Obat Pencahar untuk Mengatasi Sembelit, Mana Yang Harus Anda Pilih?

Mengenali Sembelit Kronis pada Balita

Biasanya anak buang air besar sekali dalam sehari. Namun, beberapa anak buang air besar kurang dari tiga kali seminggu atau kurang. Selama fesesnya empuk dan tidak ada keluhan, Bunda tidak perlu khawatir.

Jika frekuensi buang air besar jarang terjadi dan si kecil mengalami buang air besar yang keras, ini menandakan bahwa anak tersebut mengalami konstipasi. The American Academy of Pediatrics mengungkapkan bahwa, setiap anak yang memiliki feses besar, keras, kering, yang disertai rasa nyeri saat buang air besar, atau terdapat darah di bagian luar feses, dapat dikatakan jika Bunda anak mengalami sembelit.

Tapi jangan khawatir, Bu. Sesekali, memang wajar kalau anak Ibu mengalami sembelit. Para ibu harus memberi lebih buah dan sayuran kaya serat dan minum banyak air untuk si kecil.

Jika sembelit berlangsung selama dua minggu atau lebih, itu disebut sembelit kronis. Saatnya Bunda lebih waspada. Sembelit kronis pada balita dapat menyebabkan komplikasi atau menandakan kondisi yang mendasarinya.

Untuk mengetahui apakah anak Anda sembelit atau tidak, sebaiknya perhatikan gejala lain yang dialami anak Anda, seperti sakit perut, kembung, mual, kehilangan nafsu makan, sering marah, menangis atau menjerit saat buang air besar, menghindari toilet ( tanda bahwa anak anda melakukan ini termasuk menutup pantat, menyilangkan kaki, tersipu, berkeringat, atau menangis), dan terdapat noda atau serpihan kotoran cair pada pakaian dalam anak tersebut.

Bawa anak Anda ke dokter jika sembelit berlangsung lebih dari dua minggu atau disertai pembengkakan perut, penurunan berat badan, nyeri buang air besar. Biasanya dokter akan melacak pergerakan usus anak Anda, misalnya seberapa sering terjadi sembelit dan ada tidaknya darah pada tinja.

Baca juga: Pisang untuk Mengatasi Sembelit? Temukan Kebenarannya!

Penyebab Sembelit pada Balita dan Cara Mencegahnya

Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan sembelit pada balita, mulai dari pola makan hingga pengobatan atau suplemen yang diminum. Inilah beberapa penyebab umum sembelit pada balita.

  • Diet dan Perubahan Diet. Saat Bunda balita menjalani pola makan yang terlalu banyak mengonsumsi makanan olahan, produk olahan susu dan permen. Dan, mengonsumsi terlalu sedikit makanan kaya serat seperti biji-bijian, buah-buahan, dan sayuran. Kekurangan cairan juga bisa memicu sembelit karena membuat feses menjadi keras. Perubahan pola makan apa pun, seperti saat anak Ibu Anda beralih dari ASI ke susu formula atau mulai makan makanan baru, dapat memengaruhi tinja.

  • Tahan buang air besar. Biasanya balita usia 3 tahun lebih tertarik bermain daripada ke kamar mandi. Beberapa anak merasa malu atau takut menggunakan kamar mandi, terutama toilet umum. Terkadang, balita yang menolak proses tersebut pelatihan toilet mengungkapkannya dengan menolak pergi ke kamar mandi.

  • Obat diambil. Beberapa obat atau suplemen dapat menyebabkan balita menjadi sembelit, termasuk suplemen zat besi dosis tinggi atau obat pereda nyeri. Namun, zat besi dosis rendah dalam susu formula tidak menyebabkan sembelit.

Baca juga: Jangan Lupa Memenuhi Kebutuhan Serat Harian Anak Anda

Untuk mencegah sembelit Pada anak-anak, Bunda dapat melakukan hal berikut:

  • Biasakan anak mengonsumsi makanan berserat tinggi. Makanan kaya serat bisa membantu tubuh anak Anda membentuk feses yang empuk dan besar. Sajikan lebih banyak makanan berserat tinggi seperti buah (apel dan pir), sayuran, kacang-kacangan, sereal, dan roti gandum. Jika anak Anda tidak terbiasa dengan makanan berserat tinggi, mulailah dengan menambahkan beberapa gram serat setiap hari untuk mencegah perut kembung. Asupan serat pangan yang dianjurkan adalah 14 gram untuk setiap 1.000 kalori dalam pola makan anak Bunda. Untuk balita, asupannya lebih kecil, sekitar 20 gram serat pangan sehari.

  • Biasakan anak minum lebih banyak cairan. Air putih atau sedikit jus buah adalah cairan terbaik yang bisa Bunda konsumsi. Bagi sebagian anak, susu bisa menyebabkan sembelit.

  • Buat rutinitas buang air besar. Setelah makan, sisihkan waktu untuk si kecil buang air besar secara teratur. Bila perlu sediakan bangku kaki agar anak nyaman duduk di toilet. Ingatkan anak bahwa buang air besar normal. Jadi, jangan diabaikan atau ditunda.

  • Bersikaplah suportif. Hargai setiap upaya yang dilakukan anak Ibu. Beri anak hadiah kecil karena mencoba buang air besar, meski tidak berhasil. Misalnya stiker yang hanya bisa didapatkan jika anak ibu mencoba buang air besar. Dan, jangan hukum anak yang celana dalamnya kotor.

Baca juga: Masalah Pencernaan Yang Biasa Dialami Bayi

Referensi:

WebMD. Sembelit Balita

MayoClinic. Sembelit pada anak-anak

Henry Ford Livewell. Mengatasi Sembelit Balita: Anjuran dan Larangan

Menyusui Selama Pandemi COVID-19? Perhatikan hal-hal ini!

Pandemi COVID-19 masih terus berlangsung dan masih mempengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat. Berbagai protokol kesehatan masih terus dilakukan, baik dalam skala besar maupun kecil seperti rumah tangga, untuk meminimalisir penyebaran virus penyebab COVID-19. Mulai dari rajin mencuci tangan dengan benar, melakukan pantangan fisik atau jarak fisik, tetap di rumah kecuali untuk aktivitas mendesak, dan menjalani gaya hidup sehat.

COVID-19 memang membawa kepedulian tersendiri bagi berbagai kalangan masyarakat, termasuk para ibu menyusui. Beberapa teman saya mengaku khawatir dengan dampak pandemi COVID-19 terhadap menyusui. Apalagi teman-teman saya yang sama dengan saya bekerja di fasilitas kesehatan.

Kita sebagai tenaga kesehatan tentu tidak bisa tinggal di rumah selama pandemi ini. Pekerjaan kami membuat kami tetap pergi ke rumah sakit, menemui pasien dan orang lain, dan memungkinkan kami untuk terpapar COVID-19. Hal ini membuat teman-teman yang sedang menyusui khawatir dan bertanya-tanya, apakah mereka masih dapat menyusui bayinya selama pandemi COVID-19?

Baca juga: 3 Bahan Penghalus ASI Alami Terbukti Efektif Oleh Para Ahli

Menyusui dengan Aman Selama Pandemi

Kabar baiknya, Bunda yang sedang menyusui tetap bisa menyusui bayinya, meski Bunda sudah dinyatakan positif COVID-19. Sejauh ini belum ada data bahwa virus COVID-19 menyebar di dalam air susu ibu (ASI), sehingga sangat kecil kemungkinan virus tersebut dapat menular dari ibu ke anak melalui ASI.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menganjurkan agar pemberian ASI terus dilakukan karena manfaat ASI membantu membangun kekebalan pada anak.

Namun karena menyusui melibatkan aktivitas kontak kulit-ke-kulit Antara ibu dan bayi, terdapat beberapa protokol higiene yang harus diikuti oleh ibu untuk memastikan bahwa ASI aman untuk bayi yang disusui.

1. Cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh bayi

Seperti diketahui, mencuci tangan merupakan salah satu cara untuk mencegah penyebaran virus penyebab COVID-19. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama 40 hingga 60 detik harus dilakukan sebelum dan sesudah bayi Anda bersentuhan, termasuk saat menyusui. Mencuci tangan juga harus dilakukan sebelum dan sesudah memompa atau memeras ASI.

2. Menggunakan masker saat menyusui

Khusus untuk ibu yang sedang mengalami batuk dan pilek terlepas dari apakah gejala tersebut merupakan manifestasi COVID-19 atau bukan, sebaiknya ibu menggunakan masker saat menyusui dan juga saat memeras ASI.

3. Bersihkan permukaan benda secara teratur

Virus penyebab COVID-19 dapat hidup di permukaan benda-benda di lingkungan sekitar kita dan jika kita menyentuh permukaan yang terinfeksi maka penyebaran virus dapat terjadi. Usahakan untuk membersihkan permukaan benda di sekitar bayi dan lingkungan ibu menyusui secara berkala menggunakan desinfektan.

Jika Ibu tidak dapat menyusui secara langsung karena sakit atau sedang bekerja, maka bayi dapat diberikan ASI baik melalui dot. pengumpan cangkir, atau sendok. Dalam menyiapkan ASI sebelum diberikan kepada bayi, ketiga kegiatan di atas juga harus dilakukan oleh ibu atau anggota keluarga lainnya yang membantu mempersiapkan dan memberikan ASI kepada bayi.

Cuci tangan sebelum dan sesudah menyiapkan ASI, gunakan masker saat memberikan ASI kepada bayi, dan pastikan semua peralatan yang digunakan bersih. Jika produksi ASI ibu menurun atau tidak bisa diberikan kepada bayi karena ibu mengonsumsi obat-obatan tertentu, biasanya dokter menganjurkan pemberian susu formula kepada bayi.

Baca juga: Layanan Ibu Saat Pandemi Covid-19

Ketiga kegiatan di atas juga harus dilakukan dalam menyiapkan susu formula untuk bayi: mencuci tangan sebelum dan sesudah menyiapkan dan memberikan susu formula, menggunakan masker saat memberikan susu formula, dan menjaga kebersihan saat penyiapan susu formula mulai dari peralatan, penyiapan, dan penyimpanan. . kemasan susu formula.

Pemberian ASI pada saat pandemi COVID-19 tetap dapat dilakukan oleh ibu-ibu, karena hingga saat ini belum ada laporan bahwa virus penyebab COVID-19 tersebut didistribusikan ke ASI. Namun perlu diingat untuk selalu mencuci tangan, menggunakan masker, dan membersihkan permukaan di lingkungan sekitar untuk memastikan ASI tetap higienis sehingga mengurangi risiko penularan virus ke bayi.

Baca juga: Tekanan Saat Menyusui dan Risiko Depresi Pascapersalinan

Referensi:

UNICEF, 2020. Menyusui selama pandemi COVID-19.

Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2020. FAQ IDAI COVID-19.

Berbagai Manfaat Jahe untuk Ibu Hamil

Perubahan fisik dan hormonal selama kehamilan seringkali membuat Bunda merasa tidak nyaman. Sebut saja masalah kesehatan seperti sakit kepala, pegal-pegal, dan mual, semua itu pasti sangat sering dialami Bunda saat hamil.

Nah, jika Bunda termasuk salah satu ibu hamil yang juga bergelut dengan masalah ini, tidak perlu khawatir, karena mengonsumsi jahe bisa menjadi cara alami untuk mengatasinya.

Apakah Wanita Hamil Diizinkan Makan Jahe?

Seperti yang kita ketahui bersama, jahe telah lama dikenal dengan berbagai manfaat kesehatannya. Namun, sebagai seorang ibu hamil tentunya Bunda sering merasa khawatir jika ingin mengonsumsi sesuatu, termasuk jahe.

Lalu, apakah ibu hamil benar-benar bisa mengonsumsi jahe? Jawabannya iya. Wanita hamil diperbolehkan mengkonsumsi jahe. Meski begitu, ibu hamil sebaiknya mengonsumsi jahe secukupnya dan tidak berlebihan. Selain itu, hindari juga konsumsi jahe kering saat hamil.

Baca juga: Praktis Makan Jahe, Jahe, dan Jamu Kunyit!

Berapa Banyak Jahe Yang Disarankan Dikonsumsi?

Mengkonsumsi dalam jumlah yang cukup adalah kunci teraman jika ingin menikmati jahe saat hamil. Jumlah yang dianjurkan adalah sekitar 1 gram jahe per hari, yang dapat dibagi antara 2 dan 4 dosis.

Meski cara ideal mengonsumsi jahe dalam bentuk mentah, Anda juga bisa memakannya dalam bentuk olahan seperti permen untuk mengatasi morning sickness. Minum teh jahe juga bisa membantu mencegah morning sickness pada trimester pertama kehamilan. Namun, perlu diingat jangan sampai berlebihan ya Bunda.

Baca juga: Manfaat Jahe untuk Meredakan Sakit Leher

Manfaat Jahe untuk Ibu Hamil

Jahe menawarkan banyak manfaat bagi Bunda selama hamil, diantaranya:

1. Mengatasi morning sickness

Morning sickness merupakan kondisi yang sangat umum dialami ibu hamil di awal masa kehamilannya. Setidaknya, sekitar 80% ibu hamil mengalami kondisi ini pada trimester pertama.

Berdasarkan sejumlah penelitian, mengonsumsi jahe dapat membantu meredakan mual. Penelitian lain juga mengungkapkan bahwa jahe berpengaruh pada reseptor otak untuk mengatasi mual, meski mekanismenya belum pasti.

2. Mencegah peradangan

Walaupun beberapa peradangan merupakan kondisi alami dan tidak berbahaya selama kehamilan, namun peradangan yang berlebihan juga dapat mempengaruhi kondisi janin, terutama yang menyangkut pertumbuhan dan perkembangan fisiknya. Fitokimia dalam jahe, yaitu gingerol dan shogaols, telah terbukti membantu mengurangi gejala peradangan yang terkait dengan komplikasi selama kehamilan.

3. Menjaga daya tahan tubuh

Selama kehamilan, sistem kekebalan Anda mungkin lebih lemah. Artinya Bunda akan lebih berisiko terserang berbagai penyakit. Makan jahe dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan mencegah Bunda dari penyakit. Ini karena jahe telah terbukti memiliki sifat antimikroba.

4. Menjaga kesehatan sistem pencernaan

Perubahan hormonal dan anatomi tubuh membuat sekitar 50% ibu hamil mengalami sembelit saat hamil. Jahe dianggap memiliki efek stimulasi pada saluran pencernaan yang dapat mencegah dan mengobati sembelit.

5. Pastikan suplai darah lancar ke bayi

Makan jahe dapat membantu meningkatkan sirkulasi darah di tubuh Anda. Ini sangat bagus untuk memastikan proses suplai darah ke janin berjalan lancar.

6. Membantu proses penyerapan nutrisi

Jahe mampu merangsang enzim pada lambung dan pankreas sehingga dapat membantu tubuh menyerap nutrisi dari makanan yang Anda konsumsi. Ini juga berlaku untuk janin di dalam kandungan.

7. Jaga kestabilan kadar gula darah

Mengkonsumsi jahe selama kehamilan tidak hanya membantu Anda merasa lebih rileks, tetapi juga membuat Anda lebih berenergi. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa jahe efektif dalam menjaga kadar gula darah pada tingkat normal.

8. Membantu meredakan kembung

Mengkonsumsi jahe sebelum tidur dapat membantu meredakan gangguan pencernaan dan kembung yang sering dialami selama kehamilan.

Asalkan dikonsumsi dalam jumlah yang cukup, jahe memiliki berbagai khasiat bagi tubuh Bunda selama hamil. Untuk mengkonsumsi jahe, Bunda juga bisa mencampurkannya dengan air hangat atau teh. Semoga berhasil! (TAS)

Baca juga: Manfaat Jahe untuk Penderita Diabetes Mellitus

Referensi

Orang Jahe. "Manfaat Kesehatan Jahe Selama Kehamilan".

Parenting First Cry. "Mengkonsumsi Jahe Selama Kehamilan".

Kiat untuk Kebahagiaan bagi Introvert

Ketika membayangkan ciri-ciri orang yang bahagia, mungkin yang ada di pikiran Gang Sehat adalah seseorang yang ramah, energik, dan ceria. Ciri-ciri tersebut umumnya terdapat pada orang yang ekstrovert.

Penelitian memang menunjukkan bahwa ekstrovert cenderung lebih bahagia. Lalu, bagaimana dengan introvert? Apakah introvert sama tidak senangnya dengan ekstrovert? belum tentu Gengs!. Ada tips menyenangkan untuk introvert yang bisa kamu coba.

Baca juga: Inilah Perbedaan Anak Introvert dan Pemalu

Karakteristik Introvert

Sebelum membahas tips bahagia untuk introvert, kita perlu memahami apa saja ciri-ciri seorang introvert. Ciri-ciri ekstrovert umumnya dikaitkan dengan antusiasme, antusiasme, dominasi, ambisi. Lalu bagaimana dengan ciri-ciri introvert?

Hubungan sosial yang sehat dan bermakna memainkan peran penting dalam kebahagiaan kita, dan memang benar bahwa ekstrovert umumnya menghabiskan lebih banyak waktu dan lebih antusias untuk berhubungan atau berkomunikasi dengan orang lain, daripada introvert.

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa perbedaan antara introvert dan ekstrovert berkaitan dengan sistem dopamin di otak. Dopamin adalah hormon yang memengaruhi emosi dan sensasi kesenangan (termasuk interaksi sosial). Perbedaan ini membuat orang ekstrovert lebih cenderung merasakan emosi positif.

Namun, penting untuk digarisbawahi bahwa kebahagiaan itu bermanfaat baik bagi introvert maupun ekstrovert. Jadi, kebahagiaan juga penting bagi introvert.

Baca juga: Introvert lebih mudah terserang penyakit

Kiat Kebahagiaan untuk Introvert

Berikut adalah beberapa tip bahagia untuk introvert yang mungkin Anda perlukan jika Anda mengalami kesulitan untuk bahagia:

1. Lihat Diri Anda Secara Menyeluruh

Faktanya, sangat sedikit orang yang sangat tertutup atau sangat ekstrover. Selalu ada sisi ekstrovert dari orang yang introvert, begitu pula sebaliknya. Kebanyakan orang mendekati titik tengah antara ekstrovert dan introvert.

Artinya, kebanyakan orang memiliki waktu di mana mereka ingin bersosialisasi dan bergaul dengan banyak orang, tetapi di lain waktu mereka ingin berada dalam suasana yang sunyi dan menyendiri. Orang dengan karakteristik seperti itu lebih tepat disebut ambivert.

Jadi, Anda harus jujur ​​pada diri sendiri tentang apa yang Anda inginkan saat ini dan memberi izin kepada diri sendiri untuk memilikinya. Misalnya, jika Anda sedang ingin mengobrol santai dengan teman, hubungi mereka dan ajak untuk bertemu. Jika Anda ingin menghabiskan waktu sendirian sambil menonton serial TV favorit, lakukanlah.

2. Kenali dan akui kekuatan Anda sebagai seorang introvert

Perilaku introvert juga memiliki kelebihan. Misalnya, introvert biasanya cenderung lebih mampu memecahkan masalah, memiliki kinerja akademis yang lebih baik, memiliki kontrol lebih besar atas perilaku, dan cenderung tidak mengambil risiko yang dapat merugikan mereka.

Penelitian menunjukkan bahwa introvert memiliki kelebihan ini karena mereka memiliki lebih banyak area abu-abu di korteks prefrontal, bagian depan otak yang mengontrol pemikiran abstrak dan kompleks, serta mengatur emosi dan pengambilan keputusan.

3. Dorong Diri Anda untuk Terhubung Secara Sosial

Dalam sebuah penelitian di mana introvert diinstruksikan untuk berperilaku seperti ekstrovert di depan sekelompok orang, ditemukan bahwa mereka cenderung merasakan tingkat emosi positif yang lebih tinggi dibandingkan dengan introvert yang berperilaku normal. Penelitian lain menunjukkan bahwa introvert yang bahagia memiliki perilaku yang mirip dengan ekstrovert yang bahagia.

Jika Anda seorang introvert yang jarang bersosialisasi, cobalah untuk mendorong diri Anda terhubung dengan orang lain, sesuai dengan kemampuan Anda. Cobalah bergabung dengan kelompok atau komunitas yang berkaitan dengan hobi atau aktivitas menyenangkan yang Anda sukai.

Jika Anda merasa malu, kemungkinan besar hal yang perlu Anda tingkatkan adalah kepercayaan diri. Jika Anda kesulitan meningkatkan kepercayaan diri, mintalah bantuan orang lain atau pakar. (UH)

Baca juga: Bukan Ekstrovert atau Introvert? Mungkin Anda seorang Ambivert!

Sumber:

VeryWellMind. Tip untuk Meningkatkan Kebahagiaan Anda sebagai seorang Introvert. Maret 2020.
Depue RA, Fu Y. Tentang sifat ekstraversi: variasi dalam aktivasi kontekstual terkondisi dari proses afektif, kognitif, dan motorik yang difasilitasi dopamin. Juni 2013.

Apa Yang Terjadi pada Tubuh Saat Merinding?

Kapanpun kita kedinginan, otomatis kulit akan terasa menebal, bulu-bulu di kulit berdiri tegak, dan pori-pori akan melebar dan menjadi lebih terlihat. Kami menyebut fenomena ini merinding (merinding). Sebenarnya merinding tidak hanya terjadi saat kita kedinginan! Ada beberapa alasan mengapa kita merinding.

Selain kedinginan, kita juga bisa merinding saat mengalami emosi yang kuat, seperti ketakutan, syok, cemas, bahkan saat gairah seksual sedang tinggi. Beberapa orang juga merinding saat kita tiba-tiba mendapat inspirasi.

Sekadar pengetahuan, artikel berikut menjelaskan alasan ilmiah di balik fenomena merinding yang sering kita alami. Menarik bukan? Ayo baca sampai akhir!

Baca juga: Kulit Bermasalah? Cukup Gunakan Baking Soda!

Apa Yang Terjadi pada Tubuh Saat Kita Merinding?

Jika Anda penasaran dengan fenomena mengapa manusia merinding, berarti Anda bukanlah yang pertama melakukannya. Charles Darwin, pendiri teori evolusi, sebenarnya telah mempelajari hal ini. Bahkan kini, tak sedikit ilmuwan dan peneliti yang mempelajari fenomena tersebut.

Dalam sebuah studi baru, para ilmuwan dari Universitas Harvard telah menemukan alasannya. Tapi pertama-tama Anda perlu tahu apa yang terjadi pada tubuh saat kita merinding. Fenomena ini terjadi ketika otot-otot kecil yang terletak di dasar setiap folikel rambut berkontraksi, menyebabkan rambut berdiri tegak. Tetapi apa yang sebenarnya menyebabkan respons tubuh yang tidak disengaja ini dan apakah itu melayani tujuan tertentu?

Dalam istilah kedokteran, merinding disebut piloerection. Sebenarnya merinding ini tidak memiliki fungsi yang menguntungkan pada manusia, berbeda dengan hewan. Ilmuwan mengatakan hewan berbulu memiliki alasan khusus untuk merinding.

Pada hewan, rambut berdiri tegak sebagai pertahanan terhadap dingin. Merinding juga muncul selama situasi pertempuran atau melarikan diri dari musuh. Ketika seekor hewan menemukan dirinya dalam bahaya, mantel bulunya yang terangkat menciptakan visual yang lebih besar dari hewan tersebut dan dapat menakuti predator. Hal ini sering kita jumpai pada kucing yang menemui musuhnya.

Nah, manusia tidak memiliki cukup bulu tubuh untuk merinding untuk mendapatkan efek seperti itu. Bulu di kulit manusia saat merinding juga tidak akan membuat lawan kita takut. Merinding pada manusia hanyalah respons yang tidak disengaja terhadap lonjakan hormonal yang disebabkan oleh perubahan suhu atau emosi.

Baca juga: Berbagai Cara Menghilangkan Bulu Badan

Lonjakan Hormon Stres

Nah, ternyata merinding itu terjadi saat kita sedang stres. Orang cenderung merinding selama situasi emosional, seperti berjalan sendirian dalam kegelapan, berdiri di podium mendengarkan lagu kebangsaan setelah memenangkan pertandingan, atau bahkan hanya menonton film horor di televisi.

Ini semua adalah situasi abnormal yang memicu pelepasan hormon stres yang disebut adrenalin di bawah sadar. Adrenalin diproduksi di dua kelenjar kecil mirip kacang yang berada di atas ginjal.

Fungsi adrenalin ini tidak hanya menyebabkan kontraksi otot kulit, tetapi juga mempengaruhi banyak reaksi tubuh lainnya. Adrenalin dilepaskan saat kita merasa kedinginan atau takut, tetapi juga saat kita stres dan merasakan emosi yang kuat, seperti marah atau gembira.

Tanda-tanda lain dari pelepasan adrenalin termasuk air mata, telapak tangan berkeringat, tangan gemetar, tekanan darah meningkat, jantung berdebar kencang, atau perasaan kupu-kupu terbang di perut Anda.

Ilmuwan Harvard menemukan alasan di balik merinding ini lebih jauh. Jenis sel yang menyebabkan merinding juga penting untuk mengatur sel induk yang meregenerasi folikel rambut dan rambut.

Di bawah kulit, otot yang berkontraksi untuk membuat bulu kuduk merinding dibutuhkan untuk menjembatani hubungan saraf simpatis ke sel induk folikel rambut. Saraf simpatis bereaksi terhadap dingin dengan mengencangkan otot dan menyebabkan merinding dalam jangka pendek. Dengan mendorong aktivasi sel induk folikel rambut, ini memicu pertumbuhan rambut baru dalam jangka panjang.

Nah Geng Sehat, ternyata merinding tidak sesederhana yang kita bayangkan, ya! Tubuh kita telah dirancang untuk merespons setiap emosi yang kita alami secara berbeda.

Baca juga: Pola asuh yang salah membuat orang dewasa sulit mengontrol emosi

Referensi:

Health.clevelandclinic.org. Mengapa Anda Merinding?

Sciencetificamerican.com. Mengapa manusia merinding

Scitechdaily.com. Charles Darwin Menyelidiki Merinding – Sekarang Ilmuwan Harvard Menemukan Alasan Sebenarnya di Balik Merinding

Tips Merawat Kaki Diabetes Saat Pandemi

Kaki diabetik merupakan salah satu komplikasi penyakit diabetes akibat tingginya kadar glukosa dalam darah (hiperglikemia) yang memicu proses glikasi pada jaringan tubuh, saraf dan pembuluh darah, sehingga memperlambat proses penyembuhan luka.

Sekitar 10% pasien diabetes mengalami komplikasi kaki diabetik dan diperkirakan akan meningkat sebesar 4,4% (sekitar 366 juta orang) pada tahun 2030. Risiko memburuknya dan ancaman amputasi akan meningkat jika pasien tidak mengontrol gula darah dan melakukan perawatan luka rutin Berdasarkan penelitian di RSCM, jumlah penderita kaki diabetik yang menjalani amputasi berulang pada tahun 2008-2012 mencapai 58,7%.

Baca juga: Inilah yang menyebabkan luka diabetes sulit disembuhkan

Tahapan terjadinya luka diabetik

Berdasarkan klasifikasi Wagner, kaki diabetik dibagi menjadi 5 tahap.

  • Stadium 0 saat pasien tidak mengalami cedera tetapi berisiko tinggi terkena kaki diabetik.
  • Stadium 1 saat pasien mengalami luka dangkal
  • Tahap 2 dengan luka yang lebih dalam tanpa nanah atau tulang
  • Tahap 3 sudah berisi luka dalam, nanah, dan keterlibatan tulang
  • Tahap 4, luka dengan gangren yang bersifat lokal
  • Tahap 5 saat gangren terjadi di seluruh bagian kaki.

Dokter harus menegakkan diagnosis pada pasien kaki diabetik setelah melakukan beberapa kali pemeriksaan, oleh karena itu pasien diharapkan memeriksakan diri ke dokter secara rutin.

Baca juga: Cara Mengobati Luka pada Penderita Diabetes

Merawat Luka Kaki Diabetik selama Pandemi

Namun, pandemi Covid-19 sejak akhir tahun 2019 membuat masyarakat lebih berhati-hati saat bepergian ke luar rumah, terutama saat berkunjung ke rumah sakit untuk melakukan pengobatan atau sekadar melakukannya. pemeriksaan kesehatan. Keadaan ini juga dapat menjadi faktor risiko peningkatan kejadian kaki diabetik karena kurangnya edukasi pasien.

Perawatan kaki diabetes semakin parah karena pasien takut keluar rumah dan banyaknya mitos yang beredar menyebabkan ketakutan masyarakat untuk berobat dan merawat kaki mereka. Beberapa mitos yang masih dipegang teguh oleh masyarakat, diantaranya anggapan bahwa penderita diabetes akan kehilangan kaki karena harus diamputasi dan penderita diabetes dianggap tidak dapat melakukan aktivitas normal atau merawat kaki sendiri.

Penelitian oleh Irwan et al. (2016) mengungkapkan bahwa kejadian kaki diabetik dipengaruhi oleh perilaku perawatan diri dan kontrol gula darah yang buruk. Pasien tidak dapat mengontrol diet dan berat badannya, dan dia kurang aktivitas fisik. Oleh karena itu, perawatan rutin untuk kaki penderita diabetes sangatlah penting saat ini.

Saat pasien ada di rumah, selalu jaga kebersihan dan kelembapan luka. Luka bisa dibersihkan dua kali sehari setelah pasien dimandikan. Pasien dapat membeli kasa normal saline serta steril dan non-steril di apotek sebagai alat dan bahan pembersih luka, kemudian membeli salep yang diresepkan oleh dokter untuk mendukung proses penyembuhan luka.

Langkah-langkahnya meliputi:

1. Lepaskan perban pada luka.

2. Bersihkan luka dengan saline normal 2-3 kali.

3. Luka diolesi salep yang diresepkan dokter.

4. Pasien menutup luka dengan kain kasa steril dan perban dengan kain kasa tidak steril.

Apabila pada saat merawat luka, pasien menemukan jaringan mati yang berwarna hitam atau jaringan kuning yang mengeluarkan cairan pada luka, maka luka tersebut harus dibersihkan dengan cara debridement. Debridemen adalah tindakan membuang jaringan mati dan terinfeksi di sekitar luka. Tindakan ini bisa dilakukan oleh tenaga kesehatan.

Baca juga: Tips Merawat Penderita Diabetes & # 39; Kaki untuk Menghindari amputasi

Mencegah Luka Kaki Diabetik

Penanganan kaki diabetik tidak hanya berpusat pada pengobatan saja, pencegahan cedera penting dilakukan guna mengurangi prevalensi luka pada kaki diabetik. Ada lima langkah pencegahan yang bisa dilakukan.

Langkah pertama adalah untuk mengidentifikasi kaki penderita diabetes yang berisiko cedera. Ini sangat penting karena kaki penderita diabetes seringkali tidak menunjukkan gejala bahkan setelah cedera. Cara mengidentifikasi risiko cedera adalah dengan menelusuri riwayat keluhan pasien seperti kesemutan dan mati rasa, riwayat cedera dan kelainan bentuk kaki, serta riwayat pengobatan dan pembedahan pada kaki pasien. Pada proses identifikasi lebih lanjut, pasien dapat memeriksakan diri ke dokter dengan melakukan skrining kelainan saraf dan pemeriksaan lainnya.

Tahap kedua adalah melakukan pemeriksaan berkala pada kaki diabetik yang berisiko mengalami cedera. Hal ini penting dilakukan karena kaki diabetik sering kali mengalami mati rasa, sehingga tidak terasa saat kakinya terluka. Perhatikan kemerahan, lecet atau kapalan, bengkak, kering, dan kuku yang terlalu panjang atau pendek. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya luka kaki diabetik. Tempat cedera yang paling umum adalah trauma atau tekanan berulang.

Pendidikan perawatan kaki pasien, keluarga, dan petugas kesehatan juga perlu memahami. Pengetahuan yang baik akan mencegah komplikasi luka, memberikan perawatan yang optimal, dan mematahkan kesalahpahaman publik tentang kaki diabetik.

Kaki diabetes harus dibersihkan setiap hari, terutama di sela-sela jari kaki. Dapat diberikan pelembap kecuali sela-sela jari kaki agar tidak terlalu kering dan tidak mudah terluka. Cara memotong kuku pada kaki diabetes sebaiknya tidak terlalu pendek karena kuku juga berperan sebagai pelindung jari kaki.

Baca juga: Diabetes Melepuh, Apa Penyebabnya?

Penderita diabetes kaki harus selalu memakai alas kaki yang aman dan nyaman. Alas kaki untuk kaki diabetes tidak boleh terlalu tipis atau terlalu ketat. Dianjurkan agar panjang bagian dalam sepatu lebih panjang 1-2 cm dari panjang telapak kaki untuk memberikan ruang yang cukup bagi kaki diabetik. Jika pada kaki diabetik masih ditemukan kapalan atau luka, hal ini menandakan bahwa sepatu yang dipilih tidak sesuai.

Penggunaan alas kaki untuk kaki diabetik juga perlu disesuaikan dengan bentuk kaki pasien agar tercipta alas kaki yang sesuai dengan kebutuhan kaki diabetik. Alas kaki yang dapat meminimalkan tekanan pada telapak kaki dapat mencegah pembentukan luka dan meningkatkan perlindungan kaki diabetik.

Penyesuaian alas kaki khusus ini juga telah dikembangkan sejalan dengan perkembangan teknologi yang ada. Pasien dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis pengobatan fisik dan rehabilitasi untuk mendapatkan alas kaki khusus ini.

Langkah terakhir yang perlu dilakukan adalah obati faktor risiko cedera kaki diabetes. Hal yang dapat dilakukan antara lain mengontrol kadar gula darah, menghilangkan kapalan, merawat kuku yang terinfeksi, dan melakukan operasi jika ada kelainan bentuk yang menyebabkan luka kambuh.


Aktivitas fisik juga bisa dilakukan oleh penderita diabetes kaki. Senam kaki diabetik merupakan salah satu kegiatan fisik yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia karena dapat membantu memperlancar peredaran darah, memperkuat otot-otot kecil tungkai, dan mencegah kelainan bentuk kaki. Senam bisa dilakukan setiap hari secara rutin dengan gerakan-gerakan sederhana dengan berbagai panduan yang bisa diakses secara gratis di internet.

Kaki diabetes yang dirawat dengan benar akan mencegah terjadinya cedera serius sehingga tidak semua kaki diabetes harus diamputasi. Penanganan yang tepat dan sedini mungkin akan memberikan harapan kesembuhan yang lebih baik, sehingga penderita diabetes tidak perlu takut untuk berobat ke dokter. Semakin cepat perawatan untuk kaki diabetik, semakin banyak hal yang dapat Anda lakukan untuk menyelamatkan kaki diabetik.

Baca juga: Manfaatkan Layanan Homecare untuk Perawatan Luka Diabetes

Sumber Perpustakaan:

  1. Waspadji S. Kaki penderita diabetes. Jilid Penyakit Dalam III. Edisi ke-4. Jakarta: FKUI; 2006.
  2. Sitompul Y. Profil pasien kaki diabetik yang menjalani reamputasi di RSCM 2008-2012. Jurnal Ilmu Penyakit Dalam. 2015.
  3. Mitos diabetes. [Internet]. 2019 [cited 2020 Aug 24]. Tersedia dari: https://www.diabetes.co.uk/diabetes-myths.html
  4. Mitos diabetes dan pertanyaan yang sering diajukan. [Internet]. 2020 [cited 2020 Aug 24]. Tersedia dari: https://www.google.com/amp/s/www.diabetes.org.uk/diabetes-the-basics/myths-and-faqs%3famp
  5. Irwan A. Determinan epidemiologi kejadian ulkus kaki diabetik pada penderita diabetes melitus di RS Chasan Boesoirie dan pusat diabetes Ternate. Jurnal Wiyata. 2016.
  6. Lynda H. Pengobatan ulkus diabetes. Surabaya: Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga; 2008.
  7. Kelompok Kerja Internasional untuk Kaki Diabetik. Panduan Praktis IWGDF tentang Pencegahan dan Penatalaksanaan Penyakit Kaki Diabetik. 2019.
  8. Federasi Diabetes Internasional. Rekomendasi Praktek Klinik IDF pada Kaki Diabetik. 2017.
  9. Owings TM, Woerner JL, Frampton JD, Cavanagh PR, Botek G. Sol terapeutik khusus yang didasarkan pada pengukuran bentuk kaki dan tekanan plantar memberikan pereda tekanan yang lebih baik. Perawatan diabetes. 2008; 31 (5): 839-844.
  10. P2PTM Kementerian Kesehatan RI. Lakukan senam kaki diabetik secara teratur, di mana saja sambil bersantai. 2018.

5 Komplikasi Kehamilan Trimester Kedua yang Harus Diperhatikan

Kehamilan adalah salah satu momen terbaik Bunda. Tidak hanya Bunda, tapi juga Ayah tentunya ingin segera menggendong buah hati tercinta. Jika usia kehamilan ibu saat ini sudah memasuki trimester kedua, masih ada sisa waktu sebelum persalinan. Biasanya trimester kedua lebih rileks dan mudah dibandingkan trimester pertama. Itu karena, Bunda sudah kembali energik seperti dulu.

Bagi sebagian besar Bunda, trimester kedua adalah waktu paling nyaman dalam kehamilan. Oleh karena itu, Bunda harus meluangkan waktu untuk menjaga diri dan bayinya di dalam kandungan. Selain itu, Bunda dan Ayah akan melihat pertumbuhan bayi yang sangat cepat. Benjolan kecil di rahim Anda akan terbentuk dengan cepat, yang akan Anda lihat saat melakukan USG antara minggu ke-18 dan ke-22 kehamilan.

Meski trimester kedua merupakan masa termudah selama kehamilan, bukan berarti Bunda kehamilan kecil kemungkinannya mengalami komplikasi lho! Apa saja komplikasi kehamilan yang bisa terjadi pada trimester kedua?

Baca juga: Hamil di usia 30 tahun ke atas? Waspadai 6 komplikasi kehamilan berikut ini!

Komplikasi Kehamilan Trimester Kedua

Karena ada beberapa perubahan besar yang terjadi pada tubuh, Bunda dapat mengalami beberapa komplikasi setelah memasuki trimester kedua kehamilan. Berikut beberapa komplikasi kehamilan pada trimester kedua yang harus Bunda waspadai:

1. Pendarahan

Risiko keguguran jauh lebih rendah pada trimester kedua. Namun, masih ada kemungkinan. Pendarahan vagina adalah gejala pertama Ibu mengalami keguguran. Ya, keguguran adalah salah satu kemungkinan komplikasi trimester kedua, Bunda.

Biasanya hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti dinding septum rahim, dimana septum ini akan membelah rahim menjadi dua bagian yang terpisah. Nah, serviks yang tidak kompeten bisa menyebabkan serviks terbuka terlalu cepat sehingga menyebabkan kelahiran dini.

Penyakit autoimun seperti lupus dan kelainan kromosom dapat menyebabkan keguguran. Namun, tidak semua perdarahan merupakan tanda awal keguguran. Mungkin, dokter akan memberikan suntikan imunoglobin kepada ibu agar rahim tetap kuat.

Baca juga: Pendarahan Saat Hamil, Normal atau Tidak Normal?

2. Persalinan Prematur

Nyeri persalinan yang dialami sebelum minggu ke 38 bisa menjadi gejala persalinan prematur. Beberapa faktor yang terjadi pada persalinan prematur adalah infeksi kandung kemih, penyakit kronis seperti diabetes atau penyakit ginjal, dan perokok aktif atau pasif.

Selain itu, ibu yang pernah melahirkan prematur pada kehamilan sebelumnya berisiko lebih tinggi untuk melahirkan kembali. Kehamilan kembar juga dapat menyebabkan persalinan prematur, di mana gejalanya adalah sering buang air kecil, perut kembung, dan keputihan meningkat. Jika Anda melihat salah satu gejala tersebut, segera konsultasikan ke dokter kandungan Bunda!

3. Ketuban pecah dini

Ketuban pecah dini, biasa disebut ketuban pecah dini (PPROM) normal ketika selaput lendir pecah selama persalinan. Ini terjadi ketika kantung ketuban yang mengelilingi bayi pecah dan cairan ketuban keluar.

Padahal, tas tersebut melindungi bayi dalam kandungan dari bakteri. Saat kantung ketuban rusak, dikhawatirkan bayi dalam kandungan mengalami infeksi. Itu sebabnya, ketuban pecah dini dapat menyebabkan masalah serius bagi bayi yang belum lahir.

Tidak ada penyebab pasti ketuban pecah dini. Dalam beberapa kasus, sumber masalahnya adalah infeksi pada membran. Ketuban pecah dini pada trimester kedua dapat menyebabkan persalinan prematur. Bayi yang lahir antara minggu ke 24 dan 28 kehamilan berisiko terkena penyakit serius, terutama paru-paru. Dengan perawatan intensif, kebanyakan bayi prematur bisa sembuh.

Baca juga: Bahaya Pecahnya Cairan Ketuban Sebelum Waktunya

4. Rahim Lemah

Leher rahim adalah jaringan yang menghubungkan vagina dan rahim. Namun terkadang, serviks tidak mampu menahan tekanan rahim yang tumbuh selama kehamilan. Faktanya, tekanan yang meningkat bisa melemahkan serviks, menyebabkannya terbuka sebelum rahim mencapai sembilan bulan.

Kondisi ini disebut rahim lemah atau dalam istilah medis disebut inkompetensi serviks. Bukan hal yang aneh, tapi bisa menyebabkan komplikasi yang cukup serius lho, Bunda. Namun, pelebaran dan penipisan serviks dapat merusak ketuban, yang menyebabkan kelahiran prematur. Biasanya terjadi pada minggu ke-20 kehamilan, saat janin terlalu dini untuk bertahan hidup di luar. Itu sebabnya, kehamilan seringkali tidak bisa diselamatkan.

5. Gusi berdarah

Sebagian besar Bunda mengalami masalah perdarahan gusi selama trimester kedua. Itu karena, perubahan hormonal di dalam tubuh, dimana lebih banyak darah mengalir ke gusi, menyebabkannya berdarah. Untuk menghindari komplikasi pada trimester kedua kehamilan Anda, penting untuk menjaga kesehatan gigi. Selain itu, jika Anda memiliki penyakit periodontal, kemungkinan besar Anda akan melahirkan bayi dengan berat badan rendah atau kelahiran prematur.

Baca juga: Fakta Preeklamsia, Komplikasi Kehamilan Serius

Referensi:

Teriakan pertama. 10 Komplikasi Kehamilan Umum selama Trimester Kedua

Healthline. Komplikasi Kehamilan Trimester Kedua

Yuk, kenali tanda-tanda si kecil suka atau tidak suka dipijat

Bukan rahasia lagi, memijat bayi, bahkan bayi yang baru lahir, memberikan berbagai manfaat fisik dan mental untuk Bunda dan Si Kecil. Namun, muncul pertanyaan. Benarkah setiap bayi nyaman untuk dipijat? Bagaimana Anda tahu? Mari kita ulas informasi berikut.

Berbagai Manfaat Pijat Bayi

Tahukah Anda bahwa sentuhan merupakan salah satu indra utama bayi, terutama pada minggu-minggu awal kehidupan? Melalui sentuhan, sebenarnya Bunda bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan si kecil. Tak heran, hal inilah yang menjadikan manfaat pijat untuk bayi tidak hanya satu, namun cukup banyak.

Jika belum tahu, beberapa manfaat pijat bayi yang bisa Anda dapatkan antara lain:

  • Mengurangi gas pada bayi kolik

Pijat yang difokuskan pada area perut bisa membantu pengolahan makanan di usus, sehingga pencernaan berjalan lebih lancar.

  • Peningkatan otot dan jangkauan

Menekan beberapa titik di tubuh bayi, bisa membantu mengendurkan otot yang tegang. Hal ini tak hanya membuatnya nyaman, tapi juga membantunya mengembangkan kekuatan dan kemampuan motorik, lho.

  • Pengembangan otak

Saat Bunda memijat si kecil, secara tidak langsung meningkatkan kesadarannya akan posisi dan gerakan tubuh. Ini memungkinkan tubuhnya menjadi lebih terintegrasi secara fisik.

  • Peningkatan fokus dan kontak mata

Ikatan Apa yang tercipta saat ibu memijat si kecil, tidak hanya berasal dari sentuhan. Pertemuan Bunda dan mata si kecil saat sesi pijat, ikatan antara Bunda dan dia pun semakin erat. Selain itu, ini juga merupakan stimulasi yang baik baginya untuk melatih kemampuan fokusnya.

Baca juga: Balita rawan sakit tenggorokan jika sering berdekatan dengan anak lain

  • Tingkatkan kognitif anak

Dapatkah aktivitas yang sederhana seperti pijat membantu perkembangan sistem saraf bayi? Nyatanya, Anda bisa, Bu. Dengan pijatan, bayi bisa lebih sadar akan kondisi di sekitarnya. Nantinya, perkembangan kemampuan ini akan mempengaruhi cara dia bergerak, ketika dia bisa menguasai keterampilan lokomotor (berpindah tempat) seperti merangkak, berjalan dan berlari. Selain itu juga mampu meningkatkan kinerja kognitif anak karena meningkatkan aktivitas otak di bagian thalamus dan korteks sensorik.

  • Sistem kekebalan yang lebih sehat

Percaya atau tidak, pijat bayi bisa bikin si kecil lebih sehat lho, Bunda. Pasalnya, pijat meningkatkan jumlah sel darah putih, sehingga meningkatkan respons imun. Ini juga membantu aliran limfatik, yang dapat membantu melawan infeksi.

  • Suasana hati bayi itu lebih baik

Saat kemampuan penglihatan dan sosial emosionalnya berkembang, si kecil akan mampu merespons sesuatu yang membuatnya bahagia dengan senyuman. Nah, salah satunya adalah saat dia dipijat. Ada alasan menarik mengapa si kecil tersenyum setelah dipijat, yaitu endorfin, atau hormon bahagia, dilepaskan sebagai respons terhadap sentuhan terapeutik. Pada saat yang sama, hormon stres kortisol berkurang. Kondisi ini tidak hanya baik untuk moodnya, tapi juga untuk pertumbuhannya, termasuk penambahan berat badan.

  • Tidur lebih baik

Sebelum tidur, umumnya menjadi pilihan banyak orang tua untuk memijat bayinya. Selain menenangkan, pijatan sebagai salah satu rangkaian rutinitas yang dilakukan sebelum tidur juga membentuk pemahaman bayi bahwa ia sudah memasuki waktu tidur dan harus istirahat.

  • Membentuk mental yang sehat

Bayi yang tumbuh dengan perasaan diinginkan dan dicintai, dengan kemampuan yang sehat untuk memberi dan menerima sentuhan, akan lebih mampu tumbuh dengan bahagia. Ini berkontribusi untuk membentuk kesehatan mental si kecil hingga ia besar nanti.

Baca juga: 9 Tips Merawat Rambut Sehat Saat Hamil

Apakah Semua Bayi Menikmati Pijat?

Melihat banyaknya manfaat pijat bayi, tentunya Bunda tertarik untuk memulai kebiasaan ini mulai dari sekarang ya. Namun perlu diketahui, bahwa tidak selalu dan tidak semua bayi bisa menikmati pijatan pada kulitnya.

Itulah mengapa membaca isyarat bayi adalah aspek terpenting dalam memijat. Ya, meski kamu terlihat kecil dan di usia yang masih sangat muda, si kecil bisa memberi sinyal untuk memberi tahu dia apakah dia menikmati pijatan atau tidak, lho. Bayi akan memberi tahu Ibu kapan harus mengakhiri pijatan dan area mana yang dia suka atau tidak suka pijat. Beberapa tanda bahwa si kecil menyukai pijatan dan menikmati ikatan dengan Ibu antara lain:

  • Matanya terbuka lebar dan sepertinya fokus pada Mums.
  • Bibirnya ditekan dengan lembut seolah dia mengatakan "ooh"
  • Menggenggam atau memegang Ibu atau benda di sekitarnya.
  • Lakukan aktivitas tangan ke mulut, sering kali disertai dengan gerakan rooting dan engah. Si kecil juga bisa menyedot satu jari.
  • Tersenyum.
  • Arahkan mata, kepala, atau tubuhnya ke arah Ibu yang sedang berbicara, bernyanyi, atau di depannya.

Sementara itu, ada beberapa tanda si kecil tidak suka dipijat saat menunjukkan tanda-tanda berikut:

  • Menangis atau menjadi rewel.
  • Cegukan.
  • Meludah atau tersedak.
  • Terlihat gelisah atau tubuhnya meronta.
  • Tertidur
  • Berpalinglah dari para Ibu di depannya.

Oleh karena itu, ada beberapa kriteria waktu yang tepat agar pijat dapat dinikmati oleh Bunda dan Si Kecil, yaitu:

  • Tunggu hingga tali pusar memiliki puput (kendor).
  • Setelah si kecil bangun.
  • Saat mengganti popok.
  • Sekitar 15-20 menit setelah menyusui / menyusui.
  • Setelah baby shower.
  • Sebelum si kecil tidur di malam hari.

Yang penting diingat, pijat bayi adalah salah satu cara untuk membantu orang tua mempelajari isyarat bayi. Karena pada saat sesi pijat terjadi interaksi empat mata antara orang tua dan bayi. Inilah yang membantu Bunda fokus pada si kecil dan hanya berkonsentrasi pada bayi, sehingga mereka dapat menyesuaikan isyaratnya.

Dengan menjadikan pijatan sebagai rutinitas, Bunda dilatih untuk bisa membaca isyarat bayi, memungkinkan Bunda cepat tanggap terhadap kebutuhan bayi dan menjadi orang tua yang tanggap. Semoga beruntung ya!

Baca juga: Bunda, Waspadai Varises Vagina Saat Hamil!

Sumber:

Baby Center. Memijat Bayi.

NCT. Tips Pijat Bayi.

Healthline. Panduan untuk Pijat Bayi.

Percayai Tracey. Isyarat Keterlibatan Bayi Baru Lahir.

Minggu. Haruskah Anda Memijat Bayi Anda?

Scroll to top