sewa ambulance

Latest News

Mengapa Anak-anak Merengek Saat Diajak ke Sekolah Online?

Rasanya, pelaksanaan sekolah dari rumah (SFH) belum berjalan sekitar lima bulan. Anak-anak yang banyak menghabiskan kesehariannya di sekolah terpaksa melakukan kegiatan belajar online, termasuk balita yang sudah memasuki Taman Kanak-kanak atau PAUD.

Menariknya, ada orang tua yang mengeluhkan anaknya menjadi mudah marah dan rewel saat diajak belajar online. Menurut mereka, selama di kelas on line, si anak terlihat tidak segemerlap belajar di sekolah.

Salah satunya adalah Sevty Rahmawati, ibu dari Shaylaa Vieris Melodia. Ia mengaku, sejak awal bayinya yang berusia 5 tahun tak pernah mau masuk kelas on line. Alasannya karena merasa suasananya terlalu berisik dan membosankan, sehingga tidak bisa fokus mendengarkan apa yang dikatakan guru. Baru Juli lalu, putrinya ingin masuk kelas on line.

Baca juga: Jangan Ceroboh, Jumlah Anak yang Terinfeksi Virus Corona Meningkat di Indonesia!

Mengapa anak-anak berperilaku berbeda saat berpartisipasi dalam pembelajaran online?

Efnie Indrianie, M.Psi, psikolog menjelaskan, pada tahap balita, anak berada pada fase sensorik motorik. Artinya, mereka melihat dan menyentuh, kemudian mereka mengira itu ada. Kalau (kelas) itu virtual berarti mereka melihatnya tidak nyata, yang membuat mereka tidak nyaman, ”kata dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha ini. Balita hanya bisa fokus kurang lebih 5 menit jika terpaksa berlama-lama di kelas on line, tidak akan kuat.

Anak-anak juga menganggap rumah sebagai zona kenyamanan alias zona nyamannya. Itu sebabnya dia akan bersikap semaunya dan terkadang sulit dikendalikan. Dan saat ini juga dibutuhkan stimulasi sentuhan fisik yang nyata. Jadi ketika Anda tidak bisa merasakan suasana kelas, duduk di kursi, melihat guru, dan berinteraksi dengan teman sebaya secara langsung, anak Anda kesulitan beradaptasi.

Baca juga: Aman beraktifitas di luar rumah bagi anak-anak saat terjadi pandemi

Hal senada diungkapkan Tety, salah satu guru di Sekolah RA Nurul Hidayah Pakulonan, Serpong, Tangerang Selatan. Pada anak usia dini, kata dia, metode pembelajaran harus lebih efektif dengan tatap muka. "Secara tatap muka, mereka bisa bersosialisasi dengan teman-temannya. Tapi di rumah dengan orang tua saya. Orang tua terkadang tidak suka cara guru belajar."

Mengerjakan tugas juga harus menunggu mood anak bagus. Oleh karena itu pihak sekolah RA Nurul Hidayah Pakulonan hanya memberikan tugas kepada anak PAUD dua kali dalam seminggu, agar tidak membebani anak dan orang tuanya.

Bagaimana cara berkompromi dengan anak-anak?

Pada dasarnya, anak belajar melalui kebiasaan dan pembentukan pergaulan. Jadi, jangan sampai saat mengingatkan anak saat kegiatan belajar tiba, mimik mimik tampak mengerikan dan intonasi suaranya tinggi. Artinya, situasinya menjadi tegang dan membuatnya stres dan pemarah.

Efnie menyarankan agar Ibu menciptakan kenangan positif dalam benak anak Anda saat mengundang mereka untuk mengambil kelas online atau mengerjakan tugas sekolah. Bahkan jika dia fokus hanya beberapa menit, Mums harus mengerti juga.

Jangan langsung membentak, memarahi, atau membuatnya menyerah. Tinggallah disana dan berikan dorongan lembut kepada anak, agar kenyamanan dan memori belajar online yang terbentuk menjadi positif dan tidak horor.

Baca juga: Ternyata, Begini Rasanya Melahirkan di Tengah Pandemi

Lalu bisakah anak-anak terpikat dengan hadiah jika ingin ikut serta dalam kegiatan belajar? “Sebenarnya oke sih, tapi tidak semua anak cocok,” jawab Efnie. Dia juga menambahkan untuk tidak langsung memberi PenghargaanSebaliknya, ia menggunakan sistem poin jika anak melakukan kebaikan sepanjang hari, tidak hanya ketika mereka ingin pergi ke sekolah.

Di akhir pekan, poin bisa ditukar dengan hadiah, namun pilihan hadiah sudah ditentukan oleh Bunda. Hindari memberikan hadiah yang mahal atau spektakuler. Beri dia mainan pendidikan atau makanan favorit.

Untuk siswa di Sekolah RA Nurul Hidayah Pakulonan, Tety dan guru lainnya mempersilakan orang tua memilih media pembelajaran yang paling nyaman untuk mereka dan anak-anaknya. Dan karena beberapa alasan, sekolah saat ini lebih suka menggunakan WhatsApp daripada mengadakan kelas on line.

Sementara itu, Sevty memiliki cara untuk menyiasati masalah tersebut, yaitu dengan memberikan pemahaman kepada putrinya bahwa mengikuti kelas online akan membantunya mempersiapkan diri untuk masuk ke Sekolah Dasar (SD), serta meminta bantuan guru untuk membujuk putrinya agar mau. pergi ke sekolah seperti biasa dari rumah.

Jika Bunda belum memeriksakan diri ke ahli tumbuh kembang anak untuk mengetahui seperti apa gaya kerja otak anak dan ciri-cirinya, tidak ada salahnya mengeksplorasi beberapa metode, lalu melihat mana yang paling cocok untuknya. Metode lain yang dapat dicoba para Ibu, Efnie menjelaskan, adalah dengan menciptakan suasana yang menyenangkan atau memberikan sentuhan fisik kepada anak. (KAMI)

Baca juga: Cegah Penyebaran COVID-19 pada Anak, Ikuti Rekomendasi IDAI

Cara Orang Tua Milenial Membuat Anak Cerdas | Saya sehat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top